Pages

Selasa, 13 Agustus 2013

Istri Ideal


Berawal dari perbincangan dengan seorang teman. Dia yg beberapa tahun lebih tua daripada saya, mengatakan kesiapannya untuk menikah. Tak tanggung-tanggung, sudah ada beberapa calon yang siap mendekatinya. Dia hanya perlu memilih dan meyakinkan hati, laki-laki mana yang tepat untuk dijadikannya imam dalam keluarga.
Ada pula yang sudah pacaran beberapa tahun dan sekarang mulai membicarakan bayangan akad dan resepsi pernikahannya. Sementara mereka sudah membayangkan sampai sedemikian rupa, saya hanya menjadi pendengar yang baik. Mungkin karena faktor usia saya yang lebih muda dari mereka.
Dari bercandaan dan pembicaraan tentang bayangan pernikahan, saya jadi penasaran dengan kesiapan mental teman-teman saya. Bagi seorang perempuan, pasti tidak akan
mudah mengurus rumah tangga. Apalagi bagi yang masih muda. Banyak hal yang harus diatur, dipertimbangkan, dilakukan, dll agar keluarga kecil itu bisa berjalan dengan baik. Kerumitan demi kerumitan itu yang kadang membuat saya bingung.
Diusia yang masih belasan ini, saya memang belum bisa membayangkan jika harus menjadi seorang istri. Meskipun, banyak teman-teman saya yang sudah menikah muda dan sekarang punya anak. Saya masih menerka-nerka dan belajar agar jadi istri yang baik nantinya.
Belajar dari ibu saya yang saya anggap sosok idealnya seorang istri. Walaupun bekerja, tetapi masih memperhatikan keluarga, terutama anak-anaknya. Beliau pernah berkata “kamu harus belajar ngurus rumah dari sekarang, jadi nanti kalau udah nikah bisa ngurus rumah tangganya”. Saya yang belum ada bayangan itu spontan menjawab “hah? Nikah? Baru juga 18 tahun udah ngomongin nikah. Kuliah juga belum lulus.” dan jawaban ibu saya “jodoh itu kan gak tau kapan datangnya. Siapa tau besok kamu dilamar orang”. Saya hanya dapat diam dan sejenak memikirkan perkataan ibu.
Sejak itu saya menganggap bahwa saya harus mencontoh ibu saya. Bagaimana agar menjadi sosok istri ideal. Dalam hati muncul beberapa jawaban. Mungkin sosok wanita yang penyayang, lembut, sopan, pandai mengatur keuangan, pandai mengurus rumah, rajin, pandai memasak, keibuan, penyabar, teliti, tekun, dll. Benarkah demikian?
Beberapa jawaban itu juga didukung dari pengalaman saya berbicara dengan beberapa teman lelaki. Mereka mengatakan senang dengan perempuan yang bisa memasak, penyayang dan keibuan. Mungkin hal itu wajar. Bagaimanapun seorang lelaki, pasti dia ingin punya istri yang baik.
Saya pernah membaca disebuah artikel online, jika seorang pria cenderung menyukai dan mencari calon istri yang mirip dengan ibunya. Sekali lagi saya bertanya-tanya, benarkah demikian?
Menjadi seorang istri dan ibu, jika dibayangkan mungkin akan sangat sulit. Namun, jika dilakukan mungkin akan sangat menyenangkan. Saya pernah mendengar ada seseorang yang mengatakan “Tak ada yang lebih sempurna dalam kehidupan seorang wanita, selain menikah dan punya anak”.
Saya rasa pernyataan itu benar. Perkataan ibu saya harus saya pelajari dari sekarang. Belajar jadi wanita yang pandai mengurus rumah tangga, dan tak lagi menjadi anak perempuan manja yang selalu bergantung pada orang tua. Sumber : Ulfa Rahmatania

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar